Posted by & filed under Opini.

Kadang kita bertemu orang lain secara misterius. Blog saya, adalah tempat pertama saya bicara dengan Rizky. Di sana, ada sebuah artikel tentang frekuensi entrepreneurship di otak saya. Rizky merespon artikel tersebut. Entah ini namanya kebetulan atau tidak, tapi saya akan tinggal di Bali selama setahun mulai dari akhir Juni dan Rizky tinggal di Jakarta. Koresponsi berlanjut via tulisan, lalu Skype, dan kita sepakat untuk berkolaborasi!

Sepenglihatan saya, komunitas agile di Indonesia belum cukup besar. Singapura dan Thailand nampaknya lebih ramai. Tidak lama lagi Agile akan jadi pergerakan besar juga di Indonesia. Itu pasti, karena sudah terbukti, Agile adalah pergerakan pola pikir organisasi baru di segala penjuru dunia.

…karena sudah terbukti, Agile adalah pergerakan pola pikir organisasi baru di segala penjuru dunia.

Berikut sedikit kisah nyata dari saya…

Saya baru saja ikut konferensi Agile di Olomouc (agiliaconference.com) di Republik Ceko—di mana saya jadi pembicara di topik distributed agile software development. Saat draf tulisan ini ditulis, saya sedang di atas kereta menuju Minsk di Republik Belarusia untuk jadi pembicara di topik outsourcing dan agile software development (outsource-people.com/en). Lalu, saya akan hadir di Kiev, Ukraina, untuk workshop di Agile Eastern Europe (kiev2016.agileee.org). Jadi, Agile memang terbukti terus menyebar dari dunia barat menuju dunia timur.

Rutin menjadi pembicara di konferensi yang satu topik dengan perusahaan-perusahaan sendiri

Saya senang bisa menjadi bagian dari AgileCampus.org. Saya berharap bisa bertemu banyak orang-orang yang menarik di Indonesia.

Berikut beberapa hal yang menjadi keahlian saya, yang mungkin bisa membantu kalian semua:

Mendirikan dan Mengembangkan Berbagai Perusahaan

Saya seorang entrepreneur dari lubuk hati yang terdalam. Dari usia yang sangat muda, saya sudah tahu apa yang saya inginkan: membuat perusahaan saya sendiri. Saya juga sudah memutuskan untuk tidak akan bekerja untuk perusahaan apapun, khususnya perusahaan besar.

Saya bersama tim Bridge Global, salah satu perusahaan yang saya rintis

Saya punya gelar MBA, dan segala hal yang saya pelajari di sana hanyalah tentang perusahaan besar.

Dan kemanapun kamu pergi, di konferensi apapun, semua topik pembahasan adalah tentang perusahaan besar. Kasus-kasus yang dibagikan juga tentang perusahaan besar.

Saya tidak pernah paham. Ekonomi bergerak karena UKM-UKM. Saya juga percaya kalau era perusahaan besar akan segera berakhir. Orang mulai berbondong-bondong pindah berkerja sebagai pekerja lepas, atau mendirikan perusahaan sendiri. Jadi pertanyaannya, “kenapa kita selalu bicara tentang perusahaan besar?”

Jadi pertanyaannya, “kenapa kita selalu bicara tentang perusahaan besar?”

Bahkan di pergerakan Lean Startup. Mereka menjadi populer di lingkungan startup, lalu setelah itu? Perusahaan besar. Kenapa?

Hal-hal yang penting di perusahaan besar belum tentu penting di perusahaan kecil. Seorang pendiri startup tidak perlu mengorganisir banyak orang. Dia tidak perlu berurusan dengan tata kelola, politik kantor, serta segala tetek-bengek aturan HR dan skema kompensasi.

Yang seorang pendiri perusahaan lakukan adalah melipat lengan kemejanya, dan menyelesaikan pekerjaan. Dia sadar, dia sedang berada dalam kegelapan terkait masa depan perusahaan. Dia meyakinkan lusinan orang (investor, pegawai, rekan, klien) tentang visinya. Dia terus memikirkan sudut pandang - sudut pandang baru, agar perusahaannya bisa bangkit berdiri.

Dan itu yang saya suka dari startup: berjalan di hutan dan tanpa tahu akan melihat apa di ujungnya, mendapatkan suntikan semangat karena ide dan visi perusahaan, serta mengajak orang lain untuk ikut berjalan bersama.

Saya mulai menawarkan pendampingan di http://www.clarity.fm/hugomesser.

Saya selalu senang membantu para entrepreneur dengan pengalaman dan pengetahuan saya.

Pengembangan Software yang Tersebar (Remote)

Sepuluh tahun terakhir, saya mendirikan firma outsourcing IT bernama Bridge Global (http://www.bridge-global.com). Bridge Global tumbuh dari 0 sampai jadi perusahaan yang punya kantor di India, Ukraina, dan Eropa Timur. Saya belajar banyak tentang bekerja di tim yang tersebar. Tahun lalu saya menulis enam buku tentang manajemen tim yang tersebar (http://www.ekipa.co/ebooks).

Video teaser singkat saya menjelaskan The Distributed Agile Path untuk Outsource People Conference 2016 di Minsk

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya mengembangkan metode untuk membantu perusahaan-perusahaan lain mendapatkan manfaat dari tim global (http://www.ekipa.co/academy). Metode tersebut bernama The Distributed Agile Path. Dia memiliki modul-modul terkait marketing dan sales; strategi dan pengembangan manfaat; budaya dan komunikasi; dan penghantaran.

Bagian terakhir dari metode tersebut didasarkan dari Distributed Team Canvas—hal terpenting dari apa yang saya ajarkan saat ini. Dengan kanvas ini, tim yang tersebar bisa membuat keselarasan (alignment) dan kejelasan ekspektasi dari semua anggota tim. Terdapat delapan blok di kanvas tersebut. Tim melakukan brainstorming dengan sticky note selama 4 - 8 jam. Di akhir sesi, terdapatkan kontrak sosial yang mendorong tim tersebut.

Hugo akan menulis seri tulisan singkat tentang agile software development terdistribusi (remote). Kita semua tahu, trennya akan mengarah ke sana. Hilangnya batas geografis membuat kita bisa membuat tim terbaik dengan harga terbaik. Agar tidak ketinggalan, daftarkan email kamu di sini dan tambahkan email [email protected] ke kontak email kamu—agar tidak dianggap email promosi.

Agile dan Scrum

Beberapa tahun lalu saya menyadari, agile dan Scrum itu wajib agar tim yang tersebar bisa berkerja. Black box, fixed price, waterfall, mereka semua adalah sumber masalah saat kamu berkerja lintas lokasi dan budaya. Satu-satunya cara agar bisa berjalan adalah dengan menjadi tangkas, dengan memberi semua akuntabilitas ke tim; menyediakan alat-alat dan metode sehingga mereka bisa selaras.

Karena itu, saya mulai memberikan training Scrum. Terbukti tim internal saya bisa memahami pola pikir agile dan memahami Scrum.

Sebagai keynote speaker, workshop saya akhirnya juga dikonsumsi pihak luar.

Saya akan senang untuk berbicara dengan siapapun yang tertarik dengan topik di atas—bahkan memiliki masalah yang terkait.

Semoga saya bisa membantu!

Kirim email ke [email protected], atau tulis komentar di bawah ini—bahasa Inggris ya, Rizky yang menerjemahkan tulisan ini :p