0. Perkenalan dan Daftar Isi — Serial Agile Coaching CyberGL

Apa tugas utama Scrum Master atau Agile Coach?

Kegiatan sehari-harinya apa saja?

Apa saja ilmu-ilmu minimal yang harus dikuasai? Lalu apa saja agar bisa dianggap pakar?

Bagaimana saya bisa memilih Agile Coach yang bagus untuk perusahaan saya?

Langkah-langkah apa yang harus saya lakukan setelah ditunjuk jadi Agile Coach?

Punya salah satu pertanyaan di atas? Atau semuanya? Tenang, Anda tidak sendiri. Anda punya banyak teman.

Rangkaian tulisan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Bukan dengan teori bin konsep, tapi dengan cerpen. Berikut daftar isi cerpennya:

Iya betul. Di sini, Anda akan membaca kisah nyata saya sebagai Agile Coach. Maret 2019, setelah hampir 5 tahun jadi konsultan/trainer penuh-waktu, saya resmi menjadi Agile Coach penuh-waktu di CyberGL.  Saya tetap trainer Agile Campus, hanya waktunya yang dibatasi—maksimum 4 hari sebulan.

Sebagai pembuka cerita, mari berkenalan dahulu dengan entitas-entitasnya.

Wibisono Sastrodiwiryo

Pendiri dan pemimpin CyberGL (Cyber Gov Lab), sebuah perusahaan pengembang produk-produk e-Gov. Pertama kali berpapasan dengan mas Wibi, adalah di kompetisi dana hibah World Bank untuk perusahaan rintisan (sekitar tahun 2011). Dia dan tim, keluar ruangan presentasi, saya masuk. Pertama kali lihat, langsung terasa aura keunikannya.

Di hatinya yang paling dalam, mas Wibi adalah seorang software engineer berorientasi open source. Selain itu, beliau juga seorang pemecah masalah yang idealis. Alasan Mas Wibi berpindah fokus dari e-entreprise ke e-governance sepuluh tahun lalu adalah “masalahnya banyak banget” & “dampaknya yang besar”. Idealisme dia jugalah yang menyebabkan saya cepat memilih CyberGL dibanding opsi lain.

Krisna (Kolaborasi Perencanaan dan Informasi Kinerja Anggaran)

Aplikasi yang dirintis oleh CyberGL. Krisna diciptakan untuk memudahkan proses inisiasi pembahasan APBN dari kementrian, lembaga, dan daerah. Dengan keterbukaan informasi—meski baru di internal perangkat-perangkat negara—harapannya peluang korupsi bisa berkurang.

Status: sudah berjalan, sudah meluas, respon pengguna sangat positif.

Direktorat Sistem & Prosedur Bappenas

Pemangku kepentingan utama Krisna adalah Bappenas, Kemenkeu, dan Kemenpan RB. Namun, pengembangan Krisna sekarang berada di bawah Direktorat Sistem & Prosedur Bappenas. Selanjutnya dipanggil ‘Sisdur’.

Sidalih

Aplikasi yang dirintis oleh CyberGL (versi 1 & versi 3-nya). Diciptakan untuk pengelolaan data pemilih di Pemilu. Diinisiasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Atas dasar kepakaran di bidang ini, mas Wibi pernah terbang ke Myanmar untuk membantu KPU-nya mereka.

Status: sudah berjalan sejak 2012.

Rizky Syaiful

…alias saya sendiri. Seorang konsultan inovasi.

Sebagai Agile Coach CyberGL, tugas saya adalah memastikan keharmonisan hubungan Mas Wibi, tim-tim beliau, KPU, Bappenas (Sisdur dan direktorat lain), serta semua kementrian/lembaga yang terkait dengan Krisa & Sidalih. Sehingga misekspektasi jadi seminim mungkin, bisa bergerak tangkas, dan meningkatkan manfaat software setinggi-tingginya. Buat yang belum/baru kenal saya, berikut latar hidup saya—bagus juga untuk memahami langkah saya sekarang.

Sejak SMA, hobi saya adalah merancang produk/konsep inovatif. Sebagai mahasiswa sarjana di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (2008-2013), saya mengikuti berbagai kompetisi dan program tingkat nasional:

  • Indosat Wireless Innovation Contest 2009 (juara 4),
  • Lintasarta Creative Solution Award 2010 (ide terbaik pilihan juri),
  • Program hibah 100 juta dari I-MHERE dari World Bank (membantu startup senior & pertama kali bertemu Mas Wibi di sini).

Lulus kuliah, saya bergabung dengan tim software house teman, dengan tujuan membuat produk. Hanya bertahan 6 bulan—uang tabungan habis, tidak ada investor, dan saya enggan mengerjakan proyek software pesanan. Tidak lama setelah keluar, saya direkrut trainer Scrum Indonesia satu-satunya: Joshua Partogi. Di sini, karir saya pivot sedikit. Jadi meluas ke ‘proses kerja organisasi dalam berinovasi’ (baca: Agile). Di perusahaan Joshua, saya terpikir sebuah produk internal, yang akhirnya kami godok bersama. Namun setelah beberapa eksekusi, kami beda visi. Saya keluar membawa produk internal tersebut.

Bertahun-tahun pivot pelbagai produk—juga mencari uang sebagai solo trainer dan mentor inkubator startup—akhirnya ada juga yang diluncurkan: online course Agile (learn.agilecampus.org). Pembeli organik sudah ada meski sedikit; fitur software sudah mereka bilang oke; format pengajaran yang disukai mulai terlihat; yang belum adalah content-market fit. Saya masih bingung, “konten ya apa yang laku?”

Motivasi Rizky Melakukan Ini

Nampaknya sudah ada yang bisa menebak. Alasan utama saya turun gunung menjadi pekerja penuh-waktu, adalah untuk mencari tahu, konten apa yang para pelaku minat beli.

Saya ingin rasakan sendiri pahit-getir asam-manis hari-hari Scrum Master atau Agile Coach.

Tentang ini, salah satu pakar Design Sprint Indonesia, Saska, punya cerita menarik. Sekelompok orang dari perusahaan consumer goods internasional, rela terbang ke India & lama tinggal bersama ibu-ibu di pemukiman kumuh. Tujuannya satu: merasakan langsung harapan & kegundahan mereka.

Saya punya hipotesa: mungkin pebisnis sukses adalah juga seorang antropolog berbakat.

Sebagai trainer Agile, saya selalu berdakwah tentang pentingnya terjun langsung ke tengah pengguna. Sekarang, giliran saya walk the talk. 

Dan semoga, studi kasus saya membantu pekerjaan Anda semua.

Ikuti kisah saya secara realtime lewat Twitter Agile Campus, di cuitan bertagar #coaching4NKRI. Atau, jika jempol kamu bukan penggulung laman sosmed (seperti saya), silahkan gabung grup Tele #coaching4NKRI.

Product Manager dari Learn.AgileCampus.org

Ada pertanyaan atau pendapat?