Apa tugas utama Scrum Master atau Agile Coach? Kegiatan sehari-harinya apa saja? Apa saja ilmu-ilmu minimal yang harus dikuasai? Lalu apa saja agar bisa dianggap pakar? Bagaimana saya bisa memilih Agile Coach yang bagus untuk perusahaan saya? Langkah-langkah apa yang harus saya lakukan setelah ditunjuk jadi Agile Coach? Punya salah satu pertanyaan di atas? Atau semuanya? Tenang, Anda tidak sendiri. Anda punya banyak teman. Rangkaian tulisan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Bukan dengan teori bin konsep, tapi dengan cerpen. Berikut daftar isi cerpennya: 0. Intro (tulisan yang Anda baca sekarang) 1. Menjadi pendengar (sedang ditulis)

Tulisan ini menjelaskan apa yang tidak bisa dikompromikan di rangka kerja Agile. Di tulisan sebelumnya, Poin-Poin Inti Scrum yang Harus Ada di Proposal, kita bicara kondisi ideal. Kondisi di mana, seluruh poin-poin inti Scrum bisa diperjelas & disepakati oleh semua pihak. Kali ini, kita fokus ke skenario buruk: Bagaimana kalau, saat pembahasan draf proposal, ada yang pihak yang tidak setuju dengan beberapa poin implementasi Agile? Bayangkan posisi kita sebagai Scrum Master (atau Agile Coach jika tidak menggunakan Scrum). Timbul pertanyaan dalam benak kita: Apakah kita harus hantam terus? Ancam akan mundur kalau tidak sesuai Scrum/Kanban/XP? Atau berkompromi? Akar kedua pertanyaannya tersebut sebenarnya sama: Di pengembangan gaya Agile, mana saja aturan yang tidak bisa dikompromikan? Menurut saya pribadi, jawabannya adalah: Product Owner & Product Backlog-nya yang jelas. Dua itulah yang harus ada di awal. Selain dua itu, pelan-pelan bisa diedukasi sambil jalan. Kenapa? Ada empat alasan: 1. Pekerjaan fleksibel berubah, karena