Ibu Silvana Wasitova adalah teladan bagi profesional Indonesia. Besar di Indonesia, Bu Silvana pernah jadi Project Manager & Agile Coach di Silicon Valley & Eropa. Silahkan baca Linkedin Bu Silvana untuk lebih detailnya. Apa kunci pencapaian Bu Silvana? Tidak lain dan tidak bukan adalah belajar. Lebih tepatnya, belajar tiada henti. Okay. The devil is in the details, maka pertanyaan berikutnya: seperti apa metode belajar seperti yang efektif? Hanya Satu: Praktik Langsung Teknik belajar yang efektif adalah pratik langsung. Membaca buku bisa membantu orang mendapatkan ide. Tapi ide akan menguap jika tidak dipraktikkan. Mempraktikkan ide-ide baru akan lebih mudah jika didampingi oleh coach. Ada banyak konteks & nuansa di lapangan yang terlewat oleh buku--sebagus apapun bukunya. Di situlah pentingnya peran konsultan eksternal atau peran manajer yang juga seorang coach. Studi Kasus Mungkin ada yang menduga pendapat Bu Silvana di atas cukup bias. Karena profesi beliau sekarang sebagai Entreprise Agile Coach. Jika

Ya, Agile memang aneh — dan manjur. Buku yang ditulis tahun 1987 telah menjelaskan kenapa. Kenapa Agile? Tepat saat esai ini ditulis, warga Indonesia sedang berada di atas ombak transformasi digital: pembayaran online. Promo Gopay & OVO ada di mana-mana. Cukup scan QR code, pembayaran beres. Transfer dana cukup pakai nomor telepon. Tujuan akhirnya, akan seperti yang Dahlan Iskan rasakan saat bayar ke pedangan kaki lima di Cina: bayar dengan uang cash dianggap aneh. Ombak transformasi digital ini bukan yang pertama & terakhir. Sebelum perihal pembayaran, ada Whatsapp dengan grupnya, ada Gojek & Grab dengan kemudahan transportasinya. Setelah pembayaran, entah apa lagi yang akan didigitalisasi. [caption id="" align="aligncenter" width="460"] Kaum Luddite muncul di awal abad 19 dengan satu tujuan: menghancurkan mesin-mesin yang mencuri pekerjaan mereka di pabrik. Ingat demo supir taksi Bluebird terhadap taksi online? Ingat supir angkot yang sengaja menabrak supir grabbike?[/caption] Sekarang, cara hidup kita bisa berubah drastis dalam hitungan 1–2

Ingin pengembangan software kamu sukses? Optimal? Ingin coba dengan cara Scrum?

Punya Scrum Master yang baik adalah syarat wajib kesuksesan implementasi Scrum kamu. Saya ulangi: syarat wajib.

Di podcast terbaru (episode 2), saya jelaskan panjang lebar tiga pertanda Scrum Master yang buruk:

  1. Tidak mengerti Scrum (berdasarkan Scrum Guide)
  2. Tidak cukup berani
  3. Tidak menghidupi sifat agile dalam dirinya

Ya, betul. Poin kedua dan ketiga memang terkait erat dengan karakter. Ingat berdebatan klasik “pemimpin hanya dilahirkan vs pemimpin bisa dididik”?

Akhirnya lahir juga, Podcast Organisasi Agile. Podcast yang akan berisi tips untuk membantu organisasi kamu jadi lebih tangkas melayani pelanggan. Episode pertama ini saya akan menjelaskan dengan ringkas, cara cepat merancang software yang disenangi pelanggan. Cara yang dimatangkan di Google Venture. Tidak semua software bisa menggunakan cara ini. Tapi banyak juga yang menurut saya bisa. Kritik, saran, masukan, pertanyaan bisa dikirimkan ke rizky.agilecoach@gmail.com. Nanti dibahas di episode selanjutnya.

Design Sprint? Pernah dengar makhluk tersebut?

“Uh, kalau ‘Sprint’-nya sih saya sering dengar dari Scrum”

Iya. Nampaknya perancang Design Sprint, Jake Knapp, dapat inspirasi nama ‘Sprint’ dari Scrum.

Karena memang secara konsep mirip.

Sprint di Scrum, adalah rentang waktu singkat untuk fokus menggubah rancangan, menjadi potongan software1 yang cukup berkualitas untuk digunakan pengguna.

Sprint di Design Sprint, adalah rentang waktu singkat untuk fokus mengideasi dan memvalidasi rancangan terbaik dari potongan software2.

Persamaan:

  • sama-sama singkat,
  • sama-sama fokus,
  • sama-sama bicara tentang potongan kecil dari software,
  • sama-sama berada di dalam keluarga besar agile—yang berarti membuat bisnis lebih tangkas melayani pelanggan.

Perbedaan 1, keluaran: Sprint di Scrum keluarannya potongan software yang berkerja, Sprint di Design Sprint keluarannya rancangan yang sudah divalidasi nilai manfaatnya oleh responden dari pengguna.

Perbedaan 2, masukan: Sprint di Scrum masukannya rancangan software. Sprint di Design Sprint masukannya bisa 0 atau bisa masalah besar bersama—ini karena proses ideasi sudah berada dalam Sprint.

Dari perbedaan tersebut, bisa dinilai kalau Scrum dan Design Sprint adalah dua makhluk berbeda, yang menyelesaikan masalah yang berbeda.

Jadi Apa Itu Design Sprint?

Tanggal 12 September ini, AgileCampus.org dapat kesempatan untuk mengadakan sesuatu yang baru: seminar dengan topik psikologi!

Nah, kebetulan punya temen anak psikologi, @auliafairuz. Selain biasa jadi pembicara, @auliafairuz juga social media handler di Mobile Agency yang cukup terkenal di Indonesia. Jadi cukup terbiasa di dunia IT.

Alhasil timbul-lah ide untuk memberikan seminar persiapan awal karir, ke bekas-bekas trainee-trainee Scrum ku yang fresh-grad. Kesiapan early-employee kan cukup berpengaruh dengan kebahagiaan dan produktifitas organisasi—faktor penting yang juga jadi domainnya agile coach.

And turned out…

It went well! Nampaknya seminar ini layak jadi satu paket speaking gig, yang bisa ditawarkan ke pihak-pihak yang membutuhkan.

Yeah, as an agile organization, experimentation is embedded in our DNA! B-)

Anyway, here’s the brief report.

“How to Rock at Workplace: For Millennials Only”

 

12 Sept 2015 Featured Image

Foto bersama pasca-seminar