Ibu Silvana Wasitova adalah teladan bagi profesional Indonesia. Besar di Indonesia, Bu Silvana pernah jadi Project Manager & Agile Coach di Silicon Valley & Eropa. Silahkan baca Linkedin Bu Silvana untuk lebih detailnya. Apa kunci pencapaian Bu Silvana? Tidak lain dan tidak bukan adalah belajar. Lebih tepatnya, belajar tiada henti. Okay. The devil is in the details, maka pertanyaan berikutnya: seperti apa metode belajar seperti yang efektif? Hanya Satu: Praktik Langsung Teknik belajar yang efektif adalah pratik langsung. Membaca buku bisa membantu orang mendapatkan ide. Tapi ide akan menguap jika tidak dipraktikkan. Mempraktikkan ide-ide baru akan lebih mudah jika didampingi oleh coach. Ada banyak konteks & nuansa di lapangan yang terlewat oleh buku--sebagus apapun bukunya. Di situlah pentingnya peran konsultan eksternal atau peran manajer yang juga seorang coach. Studi Kasus Mungkin ada yang menduga pendapat Bu Silvana di atas cukup bias. Karena profesi beliau sekarang sebagai Entreprise Agile Coach. Jika

Ingin pengembangan software kamu sukses? Optimal? Ingin coba dengan cara Scrum?

Punya Scrum Master yang baik adalah syarat wajib kesuksesan implementasi Scrum kamu. Saya ulangi: syarat wajib.

Di podcast terbaru (episode 2), saya jelaskan panjang lebar tiga pertanda Scrum Master yang buruk:

  1. Tidak mengerti Scrum (berdasarkan Scrum Guide)
  2. Tidak cukup berani
  3. Tidak menghidupi sifat agile dalam dirinya

Ya, betul. Poin kedua dan ketiga memang terkait erat dengan karakter. Ingat berdebatan klasik “pemimpin hanya dilahirkan vs pemimpin bisa dididik”?

Akhirnya lahir juga, Podcast Organisasi Agile. Podcast yang akan berisi tips untuk membantu organisasi kamu jadi lebih tangkas melayani pelanggan. Episode pertama ini saya akan menjelaskan dengan ringkas, cara cepat merancang software yang disenangi pelanggan. Cara yang dimatangkan di Google Venture. Tidak semua software bisa menggunakan cara ini. Tapi banyak juga yang menurut saya bisa. Kritik, saran, masukan, pertanyaan bisa dikirimkan ke rizky.agilecoach@gmail.com. Nanti dibahas di episode selanjutnya.

Design Sprint? Pernah dengar makhluk tersebut?

“Uh, kalau ‘Sprint’-nya sih saya sering dengar dari Scrum”

Iya. Nampaknya perancang Design Sprint, Jake Knapp, dapat inspirasi nama ‘Sprint’ dari Scrum.

Karena memang secara konsep mirip.

Sprint di Scrum, adalah rentang waktu singkat untuk fokus menggubah rancangan, menjadi potongan software1 yang cukup berkualitas untuk digunakan pengguna.

Sprint di Design Sprint, adalah rentang waktu singkat untuk fokus mengideasi dan memvalidasi rancangan terbaik dari potongan software2.

Persamaan:

  • sama-sama singkat,
  • sama-sama fokus,
  • sama-sama bicara tentang potongan kecil dari software,
  • sama-sama berada di dalam keluarga besar agile—yang berarti membuat bisnis lebih tangkas melayani pelanggan.

Perbedaan 1, keluaran: Sprint di Scrum keluarannya potongan software yang berkerja, Sprint di Design Sprint keluarannya rancangan yang sudah divalidasi nilai manfaatnya oleh responden dari pengguna.

Perbedaan 2, masukan: Sprint di Scrum masukannya rancangan software. Sprint di Design Sprint masukannya bisa 0 atau bisa masalah besar bersama—ini karena proses ideasi sudah berada dalam Sprint.

Dari perbedaan tersebut, bisa dinilai kalau Scrum dan Design Sprint adalah dua makhluk berbeda, yang menyelesaikan masalah yang berbeda.

Jadi Apa Itu Design Sprint?

Oleh Brian Chesky, CEO dan cofounder Airbnb. Startup yang terkenal rela berjualan sereal agar tetap hidup saat tak ada pendanaan.

Hari Senin, 21 Oktober 2013, saya mengirim surat ini ke seluruh tim di Airbnb. Saya sudah memutuskan untuk mempublikasikannya agar pengusaha lain terbantu untuk membangun budaya mereka.


Hey tim,

 

Rapat kita selanjutnya akan difokuskan untuk membahas nilai-nilai inti, yang mana penting sekali untuk membangun budaya kita. Sebelum rapat tersebut, saya pikir saya harus menulis surat, yang menjelaskan kenapa budaya amat penting buat Joe, Nate, dan saya.

Setelah kami menutup seri C dengan Peter Thiel pada tahun 2012, kami mengundang beliau ke kantor. Saat itu sedang akhir tahun dan kami semua duduk di ruangan menunjukan berbagai macam metrik. Di pertengahan diskusi, saya bertanya, “apa satu nasihat paling penting untuk kita?”

Dia menjawab, “Jangan Rusak Budayamu.”

"Antifragility to business is analogous with fitness and immune system to human body." "Antifragile is more than agile, lean, or healthy; it's to grow by (purposely) deal with big and unpredictable problems. In business, it means hurt your company enough so you can must innovate." "In the first half of 21th century, software is the key of business antifragility" "The fast, the self-learning, and the flexibility of agile software development are the key, of innovative and disruptive software." "Moreover, you can must also adapt the core values of agile software development to your general organization. The practices will increase your organization agility, to thrive on antifragile way of life." Which one were you?