Agile Development

Untuk direktur & manajer, yang butuh cara terbaik komunikasi organisasi,
demi munculnya superteam pembuat superproduct.

Bantuan Kami

Training
“Agile for Executive”

Training dua hari berisi simulasi akan apa itu Agile. Tujuannya adalah memahami langkah-langkah strategis apa yang perlu disiapkan CEO & para chief, sebelum dan saat menerapkan budaya Tangkas.

Training
“Scrum-Kanban”

Training tiga hari berisi simulasi Scrum dan Kanban, dan diakhiri dengan ujian sertifikasi. Cocok untuk tim yang akan/sedang implementasi, atau profesional yang bersiap untuk sertifikasi internasional.

Training
“Komunikasi Asertif”

Training satu hari yang akan membantu Agile Coach / Scrum Master berkomunikasi & melatih komunikasi seluruh anggota tim. Akan diajarkan teknik pasif, agresif, serta asertif.

Paket
“Agile360”

Dapatkan paket komperhensif seluruh training Agile Development & Software Engineering. Jalankan Agile secara menyeluruh.

Berbagai
Online Course

Kamu bisa belajar tentang Scrum, Agile Software Development, dan banyak materi lain secara online.

Tulisan Terbaru Kami

  • Semua Subtopik
  • asertif
  • Design Sprint
  • empati
  • scrum guide
  • scrum master

Pilar Ketiga Agile Software Development: Kualitas Teknis yang Tinggi & Terjaga (bag. 2)

Navigasi esai: Intro & Pilar 1 | Pilar 2 | Pilar 3 (bagian 1) | Pilar 3 (bagian 2) (Sambungan dari bagian 1) Navigasi poin masalah: l) Pengetahuan yang Kurang Tersebar m) Banyak Gangguan saat Berkerja n) Developer Masih Dicekoki Deadline Masalah l: Pengetahuan Kurang Tersebar “Ingin memperlambat jalannya pengembangan? Gampang. Tambahkan saja programmer baru.” Orang IT tentu familiar dengan pernyataan di atas. Berbeda dengan pekerja pembangun rumah, menambah developer tidak akan langsung meningkatkan kecepatan pengembangan. Kenapa? Karena ada jauh lebih banyak pengetahuan yang perlu diserap oleh developer baru, dibanding tukang bangunan baru. Mulai dari sisi bisnis produk, arsitektur software, gaya menulis kode, teknologi-teknologi baru, workflow tim, bingkai kerja tim, sampai tentunya, basis kode software. Kecil kemungkinan ada satu orang di tim, yang bisa mengajarkan seluruh basis kode software. Biasanya, si anak baru perlu bertanya ke beberapa orang. Pengetahuan untuk mengerjakan software tersebar di banyak kepala. Tidak ada mandor yang tahu kondisi semua pekerjaan, […]

Asertif Empati

Saya mungkin tidak berbeda dengan anda, dibesarkan dalam budaya keluarga yang serba sungkan untuk menyampaikan sesuatu tapi di lain waktu bisa dengan mudah mengeluarkan sumpah serapah hanya untuk urusan kesalahan sepele. Saya begitu terlatih menyimpan semua emosi negatif, terlihat penurut kepada orang yang saya lihat sebagai superior lalu melampiaskan semua kekesalan yang tertahan kepada pihak yang bisa saya jadikan keset (baca: inferior). Setiap kali saya merasa diperlakukan tidak adil dan saya terlalu takut untuk menyampaikan apa yang saya rasakan dengan alasan takut durhaka atau takut dianggap baper, saya pikir solusinya adalah berdoa. Tak lupa menitipkan pesan kepada Tuhan agar menjadi hakim yang seadil-adilnya. Namun akhirnya saya menyadari, mengapa apa-apa Tuhan saya seret-seret untuk campur tangan? Lah wong yang perlu terus memperbaiki cara berkomunikasi itu saya koq. Saya jadi tidak beda jauh dengan anak kecil manja yang setiap kali kecewa tidak bisa bermain dengan mainan temannya langsung lari ke ibunya. Tentu berharap antara […]

Pilar Ketiga Agile Software Development: Kualitas Teknis yang Tinggi & Terjaga (bag. 1)

Navigasi esai: Intro & Pilar 1 | Pilar 2 | Pilar 3 (bagian 1) | Pilar 3 (bagian 2) Jika hanya membaca pilar 1 & pilar 2, programmer pemula pasti langsung khawatir, “kalau requirement bisa berubah drastis—apalagi dipaksa rilis setiap minggu—pasti fase testing dikorbankan. Kode juga jadi berantakan. Agile ini lebih neraka dari waterfall.” ~ seorang programmer pemula Mereka tahu 3 bulan lagi, kode program mereka sendiri akan seperti sphagetti. Cukup berantakan hingga mereka kesulitan menulis kode fitur baru. Mereka tahu akan dibangunkan tengah malam, karena harus memperbaiki bug fitur pembayaran yang merugikan kas perusahaan. Jangan sampai ketangkasan Agile Software Development justru membuat perusahaan rugi milyaran rupiah, karena bug yang krusial, serta penurunan performa developer. Lebih-lebih, membuat developer mengundurkan diri. Ingat pilar 1? Makin lambat tim developer berkerja, makin sulit untuk tangkas. Untuk itu, Agile Software Development butuh pilar ketiga. Pilar yang umumnya diketahui & dikuasai programmer tingkat ahli. Pilar 3: Kualitas Teknis yang Tinggi & Terjaga […]

Pilar Kedua Agile Software Development: Build-Measure-Learn, Baik atas Produk Maupun Proses

Navigasi esai: | Intro & Pilar 1 | Pilar 2 | Pilar 3 (bagian 1) | Pilar 3 (bagian 2) Sebelum menjabarkan isi pilar kedua, mari kita bahas apa itu Build-Measure-Learn (BML). Karena mungkin ada teman kita yang baru mendengar. BML adalah siklus pembelajaran yang dilakukan semua organisasi: Build adalah eksekusi rencana perbaikan, Measure adalah pengukuran dampak-dampak dari Build, Learn adalah penarikan kesimpulan dari hasil Build & Measure guna memutuskan apa yang akan di-Build di iterasi berikutnya. Kalau Anda pernah ikut rapat tahunan perusahaan, berarti Anda pernah ambil bagian dalam BML—tentu hanya jika hasil Build & Measure tersedia dan Learn-nya dibahas di sana. Rapat tahunan perusahaan adalah aktifitas BML pada organisasi. Karena produk dari organisasi adalah proses kerja mereka. Bagaimana dengan aktifitas BML pada software? Mungkin teman-teman sudah mulai melihat polanya: mayoritas kegiatan di Scrum, Kanban, & XP—bingkai kerja dasar Agile Software Development—tidak lain tidak bukan adalah aktifitas BML. Sebuah proyek waterfall (non-Agile) sendiri bisa dipandang sebagai satu iterasi BML, […]

Pilar Pertama Agile Software Development: Rilis yang Segera

Navigasi esai: | Intro & Pilar 1 | Pilar 2 | Pilar 3 (bagian 1) | Pilar 3 (bagian 2) Semua orang memulai Scrum/Kanban/XP/SAFe/Less/dll dengan harapan hidupnya akan jadi lebih baik. Kadang, kenyataan berkata lain: Mana ‘estimasi yang lebih akurat’ itu? Kenapa developer saya tetap banyak yang keluar? Produk lebih sering dirilis, tapi jumlah pengguna masih stagnan..  Di titik itu, biasanya kita mulai curiga: Jangan-jangan ada yang salah di pemahaman saya akan Scrum/Kanban. Sebagian dari kita mulai datang ke meetup, sebagian bahkan langsung mengundang trainer ke kantor. Berharap bisa ditunjukkan jalan yang lurus mengenai Agile Software Development. Rangkaian artikel tiga pilar ini, memiliki tujuan yang sama: menunjukkan jalan lurus penerapan Agile Software Development. Saya berharap semua Agile Coach, Scrum Master, Product Owner, dan Developer yang membaca, bisa mengecek kesehatan & ketangkasan timnya. Untuk CEO dan investor yang membaca tulisan ini, saya berharap inisiatif produk/proyek apapun di dalam benak bapak/ibu statusnya ‘belum dimulai’. Jika ternyata […]

Cara jadi Profesional Level Dunia

Ibu Silvana Wasitova adalah teladan bagi profesional Indonesia. Besar di Indonesia, Bu Silvana pernah jadi Project Manager & Agile Coach di Silicon Valley & Eropa. Silahkan baca Linkedin Bu Silvana untuk lebih detailnya. Apa kunci pencapaian Bu Silvana? Tidak lain dan tidak bukan adalah belajar. Lebih tepatnya, belajar tiada henti. Okay. The devil is in the details, maka pertanyaan berikutnya: seperti apa metode belajar seperti yang efektif? Hanya Satu: Praktik Langsung Teknik belajar yang efektif adalah pratik langsung. Membaca buku bisa membantu orang mendapatkan ide. Tapi ide akan menguap jika tidak dipraktikkan. Mempraktikkan ide-ide baru akan lebih mudah jika didampingi oleh coach. Ada banyak konteks & nuansa di lapangan yang terlewat oleh buku–sebagus apapun bukunya. Di situlah pentingnya peran konsultan eksternal atau peran manajer yang juga seorang coach. Studi Kasus Mungkin ada yang menduga pendapat Bu Silvana di atas cukup bias. Karena profesi beliau sekarang sebagai Entreprise Agile Coach. Jika kamu […]

Penyebab Utama Kegagalan Agile dan Solusinya

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Medium Organisasi Agile. Langgan publikasi tersebut untuk membaca tulisan Rizky lebih awal dari yang lain. Ya, Agile memang aneh — dan manjur. Buku yang ditulis tahun 1987 telah menjelaskan kenapa. Kenapa Agile? Tepat saat esai ini ditulis, warga Indonesia sedang berada di atas ombak transformasi digital: pembayaran online. Promo Gopay & OVO ada di mana-mana. Cukup scan QR code, pembayaran beres. Transfer dana cukup pakai nomor telepon. Tujuan akhirnya, akan seperti yang Dahlan Iskan rasakan saat bayar ke pedangan kaki lima di Cina: bayar dengan uang cash dianggap aneh. Ombak transformasi digital ini bukan yang pertama & terakhir. Sebelum perihal pembayaran, ada Whatsapp dengan grupnya, ada Gojek & Grab dengan kemudahan transportasinya. Setelah pembayaran, entah apa lagi yang akan didigitalisasi. Sekarang, cara hidup kita bisa berubah drastis dalam hitungan 1–2 tahun. Sebagaimana masyarakat Inggris di akhir abad 18 & awal abad 19 terhadap kemunculan mesin uap, kita sedang jadi saksi hidup […]

Scrum Guide: Penjelasan Resmi Scrum

Ingin pengembangan software kamu sukses? Optimal? Ingin coba dengan cara Scrum? Punya Scrum Master yang baik adalah syarat wajib kesuksesan implementasi Scrum kamu. Saya ulangi: syarat wajib. Di podcast terbaru (episode 2), saya jelaskan panjang lebar tiga pertanda Scrum Master yang buruk: Tidak mengerti Scrum (berdasarkan Scrum Guide) Tidak cukup berani Tidak menghidupi sifat agile dalam dirinya Ya, betul. Poin kedua dan ketiga memang terkait erat dengan karakter. Ingat berdebatan klasik “pemimpin hanya dilahirkan vs pemimpin bisa dididik”?

Ep 2 : Tiga Pertanda Kamu Punya Scrum Master yang Buruk

http://www.agilecampus.org/wp-content/uploads/poa/20160227-ep2-3-pertanda-scrum-master-buruk.mp3Podcast: Play in new window | DownloadSubscribe: Android | RSSJudul episode podcast kali ini memang sedikit provokatif. Karena memang penting sekali untuk kamu (CEO? Manager? Pimpinan Divisi? Scrum Master? Programmer? Tester? Designer?) dengar… …kalau kamu mengaku tangkas karena menggunakan Scrum. 😉

“Podcast Organisasi Agile” : Episode 1 – Design Sprint

http://www.agilecampus.org/wp-content/uploads/poa/20160212-ep1-design-sprint.mp3Podcast: Play in new window | DownloadSubscribe: Android | RSS Akhirnya lahir juga, Podcast Organisasi Agile. Podcast yang akan berisi tips untuk membantu organisasi kamu jadi lebih tangkas melayani pelanggan. Episode pertama ini saya akan menjelaskan dengan ringkas, cara cepat merancang software yang disenangi pelanggan. Cara yang dimatangkan di Google Venture. Tidak semua software bisa menggunakan cara ini. Tapi banyak juga yang menurut saya bisa. Kritik, saran, masukan, pertanyaan bisa dikirimkan ke rizky.agilecoach@gmail.com. Nanti dibahas di episode selanjutnya.

Cara Design Sprint Membantu Rancangan Software Kamu

Design Sprint? Pernah dengar makhluk tersebut? “Uh, kalau ‘Sprint’-nya sih saya sering dengar dari Scrum” Iya. Nampaknya perancang Design Sprint, Jake Knapp, dapat inspirasi nama ‘Sprint’ dari Scrum. Karena memang secara konsep mirip. Sprint di Scrum, adalah rentang waktu singkat untuk fokus menggubah rancangan, menjadi potongan software yang cukup berkualitas untuk digunakan pengguna. Sprint di Design Sprint, adalah rentang waktu singkat untuk fokus mengideasi dan memvalidasi rancangan terbaik dari potongan software. Persamaan: sama-sama singkat, sama-sama fokus, sama-sama bicara tentang potongan kecil dari software, sama-sama berada di dalam keluarga besar agile—yang berarti membuat bisnis lebih tangkas melayani pelanggan. Perbedaan 1, keluaran: Sprint di Scrum keluarannya potongan software yang berkerja, Sprint di Design Sprint keluarannya rancangan yang sudah divalidasi nilai manfaatnya oleh responden dari pengguna. Perbedaan 2, masukan: Sprint di Scrum masukannya rancangan software. Sprint di Design Sprint masukannya bisa 0 atau bisa masalah besar bersama—ini karena proses ideasi sudah berada dalam Sprint. Dari perbedaan tersebut, […]

Filosofi Agile

Agile adalah topik yang cukup kontroversial. Serius! Baru-baru ini terjadi diskusi hangat di Linkedin. Singkatnya, di diskusi Linkedin tersebut, terdapat diskusi panas pro-kontra Scrum, pro-kontra Design Sprint, dll.

Agile Coach: Peran Kantor Abad 21

Versi singkat opini ini: Perusahaan yang baik, ingin melayani balik pegawai-pegawai yang sudah berkerja keras membangun perusahaan—turn-over tinggi itu biaya yang mahal. Menariknya, umat manusia mulai menyadari, uang bukan segalanya. (baca: menurut penelitian, kebahagiaan anda tidak jauh meningkat dengan gaji lebih dari ini)

“Jangan Rusak Budayamu”

Oleh Brian Chesky, CEO dan cofounder Airbnb. Startup yang terkenal rela berjualan sereal agar tetap hidup saat tak ada pendanaan. Hari Senin, 21 Oktober 2013, saya mengirim surat ini ke seluruh tim di Airbnb. Saya sudah memutuskan untuk mempublikasikannya agar pengusaha lain terbantu untuk membangun budaya mereka. Hey tim,   Rapat kita selanjutnya akan difokuskan untuk membahas nilai-nilai inti, yang mana penting sekali untuk membangun budaya kita. Sebelum rapat tersebut, saya pikir saya harus menulis surat, yang menjelaskan kenapa budaya amat penting buat Joe, Nate, dan saya. Setelah kami menutup seri C dengan Peter Thiel pada tahun 2012, kami mengundang beliau ke kantor. Saat itu sedang akhir tahun dan kami semua duduk di ruangan menunjukan berbagai macam metrik. Di pertengahan diskusi, saya bertanya, “apa satu nasihat paling penting untuk kita?” Dia menjawab, “Jangan Rusak Budayamu.”

Antifragile : Inovasi atau Mati

“Antifragility to business is analogous with fitness and immune system to human body.” “Antifragile is more than agile, lean, or healthy; it’s to grow by (purposely) deal with big and unpredictable problems. In business, it means hurt your company enough so you can must innovate.” “In the first half of 21th century, software is the key of business antifragility“ “The fast, the self-learning, and the flexibility of agile software development are the key, of innovative and disruptive software.” “Moreover, you can must also adapt the core values of agile software development to your general organization. The practices will increase your organization agility, to thrive on antifragile way of life.” Which one were you?