Menghitung story points dari durasi jam selalu beresiko terjadi korupsi waktu alias dilambat-lambatkan. Biasa dikenal dengan sebutan Parkinson's Law. Memang di zaman product management sebelum Agile metode dulu akurasi dan predictability itu sesuatu yang bagus. On time, on budget itu adalah bola yang disasar. Nah pas kita sudah mencoba masuk ke Agile dan emang benar-benar mampu menerapkan value-valuenya maka di otak kita itu adalah memaksimalkan value dari product yang sedang kita kembangkan. Tentunya pengembangan produk di Agile sifatnya berkelanjutan jadi tidak ada target waktu, yang ada adalah terus menerus meningkatkan value.  Tentunya di awal-awal penerapan Agile wajar ditemukan kondisi “Oh ternyata estimasinya salah, wah ngerjain lebih cepet, waduh jadi ada waktu kosong nih" Kondisi ini sebenarnya bisa untuk mengerjakan sprint berikutnya, tugas berikutnya ditarik untuk dikerjakan karena toh tugas tersebut memang sudah didetailkan oleh Product Owner. Jadi mindsetnya udah berubah soal thrive

Apa sebenarnya pondasi untuk jadi agile? Struktur organisasi kah? atau hal lain? Di Agile Campus menurut kami pondasi penerapan sebuah perusahaan atau organisasi menjadi agile adalah budaya dan budaya ini benar-benar kuncinya dipegang sama si CEO atau apalah istilahnya alpha male or alpha female in the organization. Memikirkan struktur organisasi itu hanya jika berarti memang perubahannya itu massive banget.  Sementara itu perlu diakui, kami sendiri mengalami di kantor kantor dulu untuk transformasi ribetnya minta ampun. Nah kalau budaya itu sebenarnya  lebih simpel kalau mau mengubah cuma memang benar-benar harus datang dari dalam si CEO sehingga bisa mempermudah segalanya termasuk mempermudah perubahan struktur organisasi. Lengkapnya bisa simak di  [embed]https://www.youtube.com/watch?v=40owJJI2SqA[/embed]

Product owner wajib memastikan requirementnya itu cukup detail buat developer dan dirinya sendiri. Kedetailannya itu harus dipastikan oleh dia atau syukur-syukur product owner itu bisa dibantu oleh orang lain. Sehingga sebagai product owner, dia bisa mendelegasikan pendetailan itu ke orang lain tapi tetap yang namanya delegasi, akuntabilitas itu sebenernya ya di posisi si product owner. Lengkapnya bisa ditonton di Youtube:  [embed]https://www.youtube.com/watch?v=FI9ndphXniE[/embed]

Perihal Scrum Master bisa jadi Product Owner sebenarnya sudah pernah kami bahas di Youtube Channel kami di [embed]https://www.youtube.com/watch?v=ZVQ1dtAb9Bw[/embed] Intinya Scrum Master bisa menjadi Product Owner di saat darurat. Dia tidak mengorbankan tanggung jawab dia sebagai scrum master karena memang proses scrum udah berjalan dengan baik, komunikasi si Scrum Master ini juga sudah oke banget sampai ke posisi stakeholder. Sehingga boleh mengurangi waktu dia sebagai internal consultant buat tim scrum-nya yang udah di fase tinggal pengayaan atau fase enhancement. Scrum Master tinggal mengajarkan best practices baik sisi technical maupun sisi product. Urusan managerial dia kurangi lalu mengisi peran day to day as a product owner sementara. Mengapa Scrum Master bisa menjadi Product Owner? Sebab Scrum Guide sendiri tidak secara eksplisit menyatakan Product Owner dan Scrum Master tidak boleh satu orang yang sama. Kami sendiri di Agile Campus sebenarnya setuju praktek ini tidak baik tapi