Semua Perusahaan Mengaku Agile. Sedikit yang Melakukannya

Mengingat Agile adalah sebuah pola pikir, salah kaprah jika berpikir Agile semata-mata mengganti jabatan seseorang dari Product Manager ke Product Owner ataupun memasang embel-embel ‘perusahaan kami menerapkan Agile’ di lowongan kerja agar terlihat edgy di mata calon pekerja.

Tidak ada hal baru dari Agile sebenarnya. Secara umum Agile itu menghasilkan sebuah produk berdasarkan kebutuhan klien dengan dikerjakan oleh tim yang bisa mengorganisir dirinya sendiri. Tim ini lebih baik diisi orang dari berbagai bidang jadi masing-masing bisa menyumbangkan ide segar dari hal yang mereka memang kuasai.

Sebenarnya Agile itu adalah metode sederhana untuk tujuan tepat sasaran entah itu diterapkan di dalam bidang :

Dilatihkan saja sebenarnya tidak cukup, harus ada orang-orang yang terus menerus memelihara can mengawasi cara kerja Agile ini tetap dapat berjalan di sebuah perusahaan. Mengapa? Saya menemukan beberapa tantangan menerapkan Agile di perusahaan :
1. Hambatan dari level manajer
Seringkali orang-orang di level ini lupa bahwa prinsip rangka kerja Agile adalah membuat produk dimulai dari yang sekecil-kecilnya lalu memperoleh masukan dari calon pengguna (klien). Orang-orang ini sering merasa perlu mempertimbangkan ‘apa kata bos‘ atau ‘coba ditambah ini deh, dibikin itu deh biar keren‘ padahal belum tentu itu kebutuhan klien. Apakah itu artinya yang tua tidak boleh beri masukan? Tentu saja boleh! dengan data empiris, bukan cuma ‘menurut perasaan gue ini bakal ciamik deh, lapak sebelah bikin ini loh‘.
2. Hambatan dari individu
Memang ini menjadi tantangan bekerja saat ini. Manusia dituntut menguasai satu bidang tapi tetap memiliki minat mempelajari hal lain (T-shaped skills) padahal sudah terlanjur hasil pendidikan bertahun-tahun yang tidak pernah mengajarkan orang eksplorasi dalam berbagai hal. Akhirnya tentu saja butuh waktu untuk menjembatani pergeseran itu.
3. Sulitnya Terbuka
Agile itu menuntut transparansi yang mana artinya tim perlu belajar menerima dan memberikan masukan yang jujur. Hal ini tidaklah mudah untuk kultur orang Indonesia yang cenderung memberikan jawaban baik asal temannya senang atau ketika menyampaikan kritik seringkali berakhir menghakimi. Inilah alasan mengapa Agile Campus sejak 2018 memasukkan materi komunikasi dalam pelatihan Agilenya karena pada kenyataannya untuk hal ini pun orang masih perlu belajar. Jika tidak, maka sesi retrospektif yang mana penting di Agile hanya akan menjadi sesi yang menurunkan moral anggota tim dan berdampak pada turunnya kreativitas. Mana ada sih orang yang patah arang bisa dapat ide baru?

Selalu membuat sesuatu dengan data empiris dan mengutamakan keterbukaan itu memang susah. Agile memang sering hanya menjadi label kekinian tapi bukan berarti tidak mungkin. Rekrutlah orang yang memang siap untuk tangkas dan kalau perlu carilah Agile Coach yang memang menguasai hampir segala bidang sehingga prinsip Agile bisa terus hidup bukan cuma sekadar tempelan demi terlihat modern.

Ada pertanyaan atau pendapat?