Posted by & filed under Crash Course.

Ingin pengembangan software kamu sukses? Optimal? Ingin coba dengan cara Scrum?

Punya Scrum Master yang baik adalah syarat wajib kesuksesan implementasi Scrum kamu. Saya ulangi: syarat wajib.

Di podcast terbaru (episode 2), saya jelaskan panjang lebar tiga pertanda Scrum Master yang buruk:

  1. Tidak mengerti Scrum (berdasarkan Scrum Guide)
  2. Tidak cukup berani
  3. Tidak menghidupi sifat agile dalam dirinya

Ya, betul. Poin kedua dan ketiga memang terkait erat dengan karakter. Ingat berdebatan klasik “pemimpin hanya dilahirkan vs pemimpin bisa dididik”?

Karena poin kedua (berani) dan ketiga (tangkas) yang memang masuk ke domain karakter, Scrum Master juga bisa diperdebatkan seperti pemimpin.

Saya percaya pemimpin dan Scrum Master itu dilahirkan sekaligus dididik. Tidak percaya? Coba jawab dua pertanyaan ini:

  • “Apa kebetulan belaka kalau bayi-bayi yang terlahir dan besar di kota Medan, kebanyakan tumbuh menjadi orang yang relatif berani menghadapi masalah dengan orang lain?”
    Harusnya tidak kebetulan kan? Artinya karakter itu adalah hasil didikan lingkungan.
  • “Apa ada anak-anak, yang sejak di TK sudah terlihat bakat kepemimpinannya, padahal bukan dari keturunan pemimpin?” atau “Bukan kah ada juga orang-orang yang besar di Medan, tapi cenderung menghindari konflik langsung dengan orang lain?”
    Ada kan? Artinya karakter itu juga sesuatu yang dilahirkan—mungkin mutasi atau variasi gen.

Menurut saya, karakter di poin kedua dan ketiga (berani dan tangkas) bisa dididik, meski tidak bisa cepat.

Saya akan banyak membuat konten tentang cara memiliki dan mengasah karakter-karakter Scrum Master—atau manajer secara umum, pastikan daftarkan email kamu di http://eepurl.com/bM9Kq5 agar jadi orang yang pertama tahu.

Lain halnya dengan poin kesatu (pengetahuan tentang Scrum Guide). Kamu bisa memahami Scrum Guide dengan cepat—setidaknya bisa dengan mulai membaca artikel yang menjelaskan Scrum Guide ini.

Scrum Guide

Definisi Scrum

Scrum (kata benda): Sebuah kerangka kerja untuk menyelesaikan permasalahan kompleks* dan adaptif, di saat yang bersamaan, menghasilkan produk bernilai tertinggi dengan kreatif & produktif.

Sebagai kerangka kerja, Scrum bersifat ringan dan bisa menjadi wadah untuk berbagai proses dan teknik.

Karena ringan, Scrum itu:

  • Mudah dipahami.
  • Tapi sulit dikuasai.

Frase ‘sulit dikuasai’, berasal fakta bahwa panduan detail dari penerapan Scrum, tidak tersedia di Scrum Guide.

Minimnya Scrum Guide—selain menimbulkan kebingungan bagi orang yang terbiasa dipandu oleh aturan yang jelas dan lengkap—memberikan ruang untuk perbaikan dan improvisasi yang tidak berujung. Alhasil, sebagaimana segala sesuatu yang tidak berujung, Scrum sulit dikuasai.

Penjelasan definisi Scrum di atas merupakan rangkuman langsung dari Scrum Guide. Opini dan saran tambahan dari saya:

  • Atur ekspektasi atas informasi dari artikel ini. Scrum Guide memang tidak menyediakan panduan yang siap pakai di lapangan. Namun, paham Scrum Guide adalah langkah wajib pertama untuk mengeksplorasi cara-cara implementasi di lapangan.
  • Normal jika muncul pertanyaan-pertanyaan yang levelnya taktikal di lapangan. Catat setiap pertanyaan yang muncul.
*) Saya akan bahas secara mendalam bedanya masalah kompleks dengan non-kompleks—sesuatu yang harus dimengerti orang-orang yang mengaku agile. Pastikan daftarkan email kamu di http://eepurl.com/bM9Kq5 agar tidak ketinggalan.

Teori Scrum

Scrum memiliki akar di filosofi empirisme.

Bagi seorang penganut empirisme, pengetahuan/informasi hanya bisa diturunkan dari pengalaman yang benar-benar terjadi. Pengambilan keputusan diusahakan sebisa mungkin hanya berdasar dari pengetahuan tersebut—bukan asumsi atau angan-angan belaka.

Karenanya, ciri khas dari Scrum adalah cara kerja yang iteratif dan inkremental (baca: per tahapan-tahapan kecil). Dengan begitu, software bisa terus dirancang ulang berdasarkan respon pengguna yang paling faktual. Artinya, sesuai dengan empirisme.

Untuk menjaga filosofi empirisme dalam Scrum, seluruh implementasi di dalamnya berakar dari tiga proses kontrol empiris berikut: transparansi, inspeksi, dan adaptasi.

Transparansi

Mereka yang bertanggung jawab pada sebuah keluaran, wajib mampu melihat aspek-aspek penting yang terkait dengan pembuatan keluaran tersebut.

Transparansi adalah juga tentang memiliki bahasa dan definisi yang sama. Juga tentang bagaimana penerima hasil kerja dan pekerja punya definisi selesai yang sama.

Inspeksi

Pengguna Scrum akan diarahkan untuk secara rutin mengecek artefak-artefak (baca: barang konkrit) di Scrum—yang sebelumnya memang sudah dibuat transparan. Dengan begitu, hal-hal yang tidak diinginkan / bermanfaat bisa diminimalisir.

Adaptasi

Jika setelah inspeksi ditemukan hal yang tidak sesuai atau tidak mengarah pada tujuan akhir—yaitu potongan software yang paling permanfaat buat pengguna, maka dilakukan adaptasi.

Adaptasi harus dilakukan sesegera mungkin, karena jika dibiarkan hal-hal yang tidak diinginkan / bermanfaat semakin lama semakin membesar.

Empat kegiatan formal di Scrum yang berakar dari inspeksi dan adaptasi adalah

  • Sprint Planning
  • Daily Scrum Meeting
  • Sprint Review
  • Sprint Retrospective

Penjelasan teori Scrum di atas merupakan rangkuman langsung dari Scrum Guide.

Mekanik Scrum

Karena cukup panjang, saya jelaskan dalam bentuk video. Navigasi ke bagian spesifik di Scrum Guide bisa diakses di bagian deskripsi di Youtube.

Penutup

Bagaimana? Sudah PD untuk bilang ‘saya mengerti Scrum Guide’? Sudah dapat satu cara untuk mendeteksi Scrum Master yang buruk?

Saya harap begitu.

Karena Scrum Master adalah kunci sukses keberhasilan implementasi Scrum anda—yang bisa berujung ke kesuksesan pengembangan software dan bisnis anda juga.

  • Ahmad Fathoni

    Maaf mas saya mau tanya, apakah scrum itu termasuk metode penelitian? Apa tahapan dari scrum (yang sudah pasti) ? Dan apakah ada refrensi pendukung untuk tahapan tersebut