Sudah Tahun 2020 Nih, Masih Butuh Training Scrum?

Tahukah kamu bahwa Scrum akan memasuki usia kepala 3? Apakah Scrum masih bermanfaat?

Jawaban saya: “tergantung”.

Scrum hanya akan menambah kerumitan, jika:

  1. Pihak bisnis sudah intens berkomunikasi dengan tim pengembang, dengan ciri-ciri:
    1. Semua uneg-uneg langsung terangkat & ditindaklanjuti.
    2. Tim pengembang benar-benar memahami alasan bisnis dari setiap fitur yang akan mereka kerjakan.
  2. Sudah ada komunikasi intens dengan pengguna-pengguna software, dengan ciri-ciri:
    1. Rilis fitur baru yang dalam hitungan minggu, bahkan hari.
    2. Menggunakan analytic software untuk membaca prilaku pengguna.
    3. Pengguna rutin ditanya pendapatnya terkait fitur-fitur baru &  keluhan-keluhan lain mereka. Temuannya harus bisa jadi landasan mengubah arah pengembangan bulan depan.
  3. Tim pengembang sudah berkerja secara transparan, dengan ciri-ciri:
    1. Pihak-pihak lain memandang mereka sudah punya etos kerja yang baik.
    2. Estimasi mereka atas lama pengerjaan sudah dihargai (maksudnya tidak dilobi-lobi lagi).
  4. Produknya berkualitas secara teknis, dengan ciri-ciri:
    1. Punya standar kualitas minimal — baik di sisi ‘dapur mesin’ yang tidak terlihat pengguna (contoh: kode software), maupun di sisi yang terlihat.
    2. Pihak bisnis menaati standar kualitas tersebut, meski saat mengejar target bisnis.
    3. Kode software tetap rapih meskipun ukuran dan kompleksitas software meningkat.

Jadi bagaimana? Apakah tempat kamu sudah memenuhi empat kriteria di atas?

No Scrum!

Selamat jika sudah menghidupi empat poin di atas. Sebagai orang yang hampir 5 tahun menghidupi keluarga dari mengajar penerapan Scrum, saran saya:“Jangan belajar Scrum! Hampir tidak ada gunanya!”.

Bisa Scrum, Bisa No Scrum..

Misal baru sebagian? Belum tentu juga menerapkan seluruh Scrum bisa worth the cost. Ingat! Berubah itu berat — apalagi di skala tim. Coba pelajari dulu ‘komponen-komponen mesin’ Scrum. Cari & terapkan ‘komponen’ yang spesifik menyelesaikan masalah Anda. Bisa di situs wiki Tiga Pilar Agile.

Scrum Mungkin Membantu

Kalau ternyata tempat Anda bolong-bolong di keempat poin di atas. Maka Scrum adalah salah satu template cara kerja yang baik. Kenapa? Karena populer & cukup simpel. Alternatifnya, bisa mencoba saudaranya Scrum yang lebih simpel: Kanban.

Melengkapi Kanban dengan beberapa praktik Scrum juga boleh. Menciptakan bingkai kerja sendiri juga tidak diharamkan. Tapi, kalau terlalu membingungkan, mulai saja dengan template yang sudah ada.

Kalau kamu membuat produk kreatif bin dinamis seperti software — apalagi di fase awalnya yang penuh ketidakjelasan — Scrum pasti cocok.

Ada Training Scrum di Jakarta?

Ada banyak cara untuk belajar Scrum yang benar & menyeluruh. Bisa baca panduan resminya sendiri yang gratis, ikut kelas training, atau yang lebih terjangkau di learn.agilecampus.org (cocok jika kamu di luar Jakarta).

Product Manager dari Learn.AgileCampus.org

Ada pertanyaan atau pendapat?