Asertif Empati

Saya mungkin tidak berbeda dengan anda, dibesarkan dalam budaya keluarga yang serba sungkan untuk menyampaikan sesuatu tapi di lain waktu bisa dengan mudah mengeluarkan sumpah serapah hanya untuk urusan kesalahan sepele. Saya begitu terlatih menyimpan semua emosi negatif, terlihat penurut kepada orang yang saya lihat sebagai superior lalu melampiaskan semua kekesalan yang tertahan kepada pihak yang bisa saya jadikan keset (baca: inferior).

Setiap kali saya merasa diperlakukan tidak adil dan saya terlalu takut untuk menyampaikan apa yang saya rasakan dengan alasan takut durhaka atau takut dianggap baper, saya pikir solusinya adalah berdoa. Tak lupa menitipkan pesan kepada Tuhan agar menjadi hakim yang seadil-adilnya. Namun akhirnya saya menyadari, mengapa apa-apa Tuhan saya seret-seret untuk campur tangan? Lah wong yang perlu terus memperbaiki cara berkomunikasi itu saya koq. Saya jadi tidak beda jauh dengan anak kecil manja yang setiap kali kecewa tidak bisa bermain dengan mainan temannya langsung lari ke ibunya. Tentu berharap antara supaya ibu yang jadi negosiator atau ibu terpancing membelikan mainan yang sama. Sayangnya Tuhan bukan ibu yang model seperti itu.

Formula AsEm ini sebenarnya bukanlah rumus baru. Saya mempelajarinya di tahun 2005 ketika saya perlu menjadi fasilitator mahasiswa baru Universitas Indonesia. Ketika itu dosen Psikologi saya menyampaikan bahwa mahasiswa baru itu butuh dibekali cara belajar dan cara komunikasi. Sayangnya mahasiswa baru ketika itu tidak cukup bisa menyimak apalagi menerapkannya karena di saat yang sama mereka dibombardir dengan rupa tugas ospek tidak masuk akal oleh seniornya. Justru dari tahun ke tahun, mahasiswa-mahasiswa UI tersebut lebih sigap mengerjakan apa kata senior dengan isu miring konsekuensi yang seolah-olah bakal fatal banget kalau gak ikut orientasi fakultas/ jurusan. Sementara sesi kami yang disusun secara khusus dari Rektorat dianggap angin lalu. Ya lumayan juga sih. Buat orang yang lupa, saya bisa ajarkan kembali. Haha. Saya sendiri mengajarkan topik ini di tahun 2005, 2006, 2012 di UI. Apakah saya menjalani apa yang saya ajarkan? Pernah iya, pernah tidak, sering gagal apalagi ke keluarga sendiri. Nanti mungkin di bawah saya menceritakan sedikit.

Yang menarik sesi orientasi mahasiswa baru terutama cara berkomunikasi ini sudah beberapa tahun hilang dari kisi-kisi. Jadi setiap tahunnya ada ribuan orang yang gagap untuk berkomunikasi secara tepat dan bisa mendadak patuh hanya karena isu ketakutan yang sebenarnya cuma cakap sampah. Padahal sebenarnya dua langkah komunikasi ini membantu banyak mahasiswa. Jangan salah, di UI selalu ada kaum minoritas yang nyaris luput dari perhatian yaitu mahasiswa dengan budget terbatas hanya bisa tinggal di asrama dan canggung untuk menyapa temannya dengan ‘gue elo’. Iya sesederhana itu tapi masih kuat di ingatan saya bagaimana selalu ada mahasiswa yang merasa tertolong ketika materi ini disampaikan sehingga mahasiswa Jabodetabek bisa cukup berempati kepada mereka yang masih kagok dengan kehidupan perkuliahan dan pergaulan Jakarta.

Baiklah kata-kata di atas sebuah pengenalan tahap awal. Sekarang bagian latar belakangnya. Materi saya ini sebenarnya tidak pernah direncanakan masuk ke Materi Agile 360 dari Agile Campus. Ini terjadi ketika kami melihat bagaimana bingungnya individu/ sekelompok orang ditunjuk menjadi Scrum Master. Apakah solusinya dengan berkomunikasi memenangkan hati lawan bicara anda? Halooo, ini bukan sesi motivasi sebuah usaha MLM loh.

Lalu bagaimana? Di sebuah perusahaan malah berpikir untuk merekrut saja lulusan Psikologi sehingga bisa menjadi Scrum Master bagi mereka. Saya geli sebenarnya melihat keluguan mereka cuma maklum juga sih. Orang sering melihat orang lulusan Psikologi selalu berkata-kata bijak dan pendengar yang baik. Lah customer serviceperusahaan Telekomunikasi juga selalu berkata baik dan mendengarkan keluhan/ cacian pelanggan karena mendadak wifi nya melambat ketika sedang bermain Dota (bukan cerita sebenarnya). Scrum Master itu saya melihatnya seperti sukarelawan grup konseling; tidak melulu harus psikolog yang turun tangan tapi bisa dari teman-teman seperjuangan karena justru mereka yang lebih paham tantangan teman-temannya (dalam ini Scrum Master ya rekan sekerja) daripada psikolog itu sendiri.

AS

Cara komunikasi ini bisa diterapkan di tempat anda bekerja maupun di rumah. Percayalah tantangannya selalu ada. Orang yang selama ini terbiasa melihat anda selalu mengalah akan terkejut ketika anda bisa membela diri anda sendiri. Orang yang selama ini melihat anda selalu sulit bicara baik-baik juga merasa sedikit damai hidup di bumi ini karena tiba-tiba anda tahu cara mengerem ketika berbicara.

Asertif itu percaya diri menyampaikan pendapat tanpa menjadi arogan.

Ada jembatan keledai untuk mencapai kemampuan ini. Makanya ada pelatihan khusus. Tahap awal memang selalu saya minta peserta menulis kata-kata yang ingin diucapkan. DIh ga banget! Nulis? Lah situ kan waktu pedekate sama gebetan juga bolak balik nulis, hapus chat, nulis, hapus chat, tak terkirim-kirim sampai akhirnya gebetan itu sudah sama yang lain kan? Kan..

Ketika mencoba menulis dan diucapkan pasti kebiasaan asli anda yang muncul lebih dulu. Mungkin anda akan senyum-senyum sendiri, asertif sih tapi ngegas di ujung, asertif sih tapi koq nadanya masih minder ya?

Ada jembatan keledai yang saya ajarkan soal asertif ini: KALIMAT SAYA. Hanya dengan begitu anda tidak semena-mena menyudutkan orang lain. Anda sedang menyampaikan pendapat yang mana itu adalah sebuah kejujuran yang anda rasakan. Orang dengan kecenderungan submisif pasti merasa berat melakukan ini karena mereka adalah orang yang terlatih bilang : ahsiapppp!!! Orang dengan kecenderungan agresif juga butuh perjuangan menyampaikan apa yang mereka rasakan karena lebih mudah menunjuk ke tiap orang di sekeliling daripada mengungkapkan apa aslinya mereka. Terlalu takut terlihat rapuh dan sentimentil kan?

Ah susah! Toh orang-orang kan sudah tahu saya modelnya begini. Lah kalau memang hidup bisa sedikit damai dengan cara komunikasi yang tepat, mengapa tidak dicoba? Jika anda coba googling anda bisa melihat bagaimana asertif ini disusun dan dikembangkan oleh banyak psikolog dan pendidik untuk membantu banyak hal. Satu hal Asertif tidak bisa diterapkan adalah di kasus kekerasan dalam rumah tangga. Itu adalah sebuah kondisi yang mana anda tidak dapat mengubah pelaku dan keselamatan hidup anda lebih penting dari apapun.

EM

Baru akhir-akhir ini saya menyadari hal yang luput saya lakukan kepada orang terdekat saya adalah bersikap empati. Saya bisa asertif jauh lebih baik dibanding ketika usia saya awal kepala 2, tapi seringkali saya luput berempati kepada keluarga sendiri. Empati itu bukan diucapkan, ‘wah saya berempati dengan kamu yang hpnya error melulu‘ Percayalah seringkali itu terdengar cuma ucapan manis di bibir.

Empati itu mencoba menempatkan diri di posisi orang lain.

Dasar empati itu:

  1. Stop berlomba lebih menderita. Mendengar teman gagal nikah, anda merasa perlu menambahkan, ‘Wah Ndri, aku ini loh bukan cuma gagal jadi manten, duitkuuuu itu loh digondolll 10 juta, hak asuh kucingku diambil dia, IG storynya itu loh berhari-hari njelek-njelekin akuuu’ Sudahlah lomba terlihat menderita itu ga membantu
  2. Kesampingkan pegangan hidup anda dari sudut agama, suku, ras, dan golongan. Misalnya anda adalah orang yang berpegang teguh perkawinan 1 agama lalu teman anda yang menikah beda agama curhat mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Anda tidak perlu mempuk-puk dia sambil menambahkan, ‘mangkanya cari yang seiman dan bisa jadi imam, jadinya kan dapat algojo gini

Empati itu tidak terbawa perasaan sehingga ketika anda ketemu si mantan dari teman gagal jadi manten itu tidak perlu memberikan tatapan tajam menusuk ulu hati. Empati itu butuh waktu sejenak memposisikan diri kalau gagal jadi manten itu seperti apa rasanya, lalu sampaikan perasaan anda. Tidak perlu langsung menawarkan solusi. Ingat anda dibutuhkan bukan untuk menjadi teknisi komputer yang siap memberikan solusi dari A sampai Z ketika koneksi internet tidak nyambung-nyambung. Seringkali orang sudah tertolong ketika cerita dia didengar tanpa dihakimi.

Bagaimana jika menemukan rekan kerja yang anda rasa tertutup tapi anda tahu dia sedang tidak baik-baik saja? Coba asertif dengan jembatan keledai yang pernah saya bagikan : ‘saya merasa khawatir karena melihat kamu beberapa kali keluar dari toilet dengan mata merah, silakan cerita aja ya’

Empati itu sama seperti asertif perlu berlatih. Mungkin kerasnya kehidupan membuat anda merasa tidak tertarik dengan penderitaan orang (halah baru masalah gagal manten, aku bolak balik tahu suamiku selingkuh yo kalem kalem aja gak pakai ngeluh) tapi hubungan manusia itu dua arah. Bagaimana teman anda bisa mentoleransi anda yang sering hilang konsentrasi ketika rapat karena menemukan fakta baru soal affair suami jika anda tidak bisa membukakan tangan untuk sebuah rangkulan bagi teman yang batal nikah itu?

Akhir kata, saya selalu bilang hidup kita ini sebenarnya 1/3 berurusan dengan tim kerja, 1/3 berurusan dengan keluarga, 1/3 dengan pikiran sendiri ketika malam tiba. Dengan waktu sebanyak itu kita ga bisa mengatur sebuah hubungan (entah itu kerja, cinta, atau rumah tangga). Kita cuma bisa berkontribusi dalam hubungan tersebut.

Halo kaum submisif, mau sampai kapan terisak-isak menahan kekesalan karena tidak pernah mau mencoba membela diri sendiri? Hai kaum agresif? Mau sampai kapan merasa paling benar/ paling pintar dan membuat orang tergopoh-gopoh menyediakan apa yang anda minta sambil diam-diam kirim doa agar anda segera di alam baka?

Ingat, pindah kerja/ ganti pasangan bukanlah solusi ampuh untuk kedamaian hidup anda ketika masalah sebenarnya adalah di cara komunikasi anda 😉

POST A COMMENT