Pilar Kedua Agile Software Development: Build-Measure-Learn, Baik atas Produk Maupun Organisasi

Navigasi esai: Intro & Pilar 1 · Pilar 2 · Pilar 3


Ada dua sisi di sini: produk & proses.

Sisi Produk

“Anda bisa saja sudah sering rilis, tapi itu akan sia-sia jika yang dirilis itu keren-hanya-menurut-bos.”

Masalah e: Bos yang Semua Maunya Harus Dituruti

Bos, pemilik, presiden. CEO, walikota, atau apapun namanya, semua punya satu benang merah. Semua merasa akan jadi orang pertama yang digantung, kalau organisasinya gagal.

Agar tidak gagal, mereka biasanya memimpin inisiatif inovasi. Tentu di zaman sekarang, inovasi seringnya berwujud software.

Masalahnya adalah:

  1. Mereka hampir selalu jatuh cinta dengan ide mereka,
  2. Mereka (kebetulan) adalah juga pimpinan.

Kenapa masalah? Bukankah itu memang tugas pimpinan? Mengatur organisasi sesuai visi-misi-nya? Sesuai maunya mereka?

Memang. Sayangnya, mengembangkan software itu tidak sama dengan mengurus operasional: merekrut orang-orang untuk hirarki jabatan, memilih vendor untuk mengadakan barang/jasa, dan pekerjaan-pekerjaan umum lainnya (masalah ‘rumit’ di teori Cynefin). Mengembangkan software itu adalah kegiatan R&D alias riset dan pengembangan, yang mana peluang gagalnya jadi besar sekali (masalah ‘kompleks’ di teori Cynefin). Jadi tidak bisa sekedar bilang “pokoknya si bos maunya ya seperti ini”.

Masalah pemimpin-yang-memaksakan-eksekusi-idenya-tanpa-riset ini jadi makin parah saat ide-idenya besar-besar. Ingat masalah a di pilar pertama?.

Solusi:

  • biasakan menggunakan format User Story untuk mendeskripsikan pekerjaan. Yang mana penjelasan Why-nya harus ada, sehingga selalu diketahui manfaatnya untuk pengguna.
  • terapkan proses kerja yang memungkinkan ide muncul dari mana saja. Di proses kerja tersebut, ide-ide akan diriset terlebih dahulu ke pengguna sebelum bermuara ke antrian pekerjaan. Salah satu contohnya adalah mekanisme Product Owner di Scrum.

Masalah f: Pengguna yang Tidak Didengar

Saat menulis artikel ini, saya membuka aplikasi Tokopedia dan cukup terkejut. Ada instruksi untuk melakukan swipe dua jari dari samping kanan layar, sehingga saya bisa memasukan komplain atau ide terkait aplikasi.

Swipe dua jari dari kanan, dan temukan ini.

Kita bisa melakukan hal tersebut, di setiap halaman di aplikasi Tokopedia.

“Keren! Kenapa baru sekarang ya Tokopedia pasang Instabug?”, itu yang saya bilang dalam hati.

Instabug belum sempurna. Masalah yang mungkin muncul, adalah pengguna yang lupa. Di masa depan saat kesal dengan aplikasi, pengguna mungkin sekali lupa bahwa bisa komplain di Instabug.

Sekedar informasi tambahan, cara mendengar pengguna ada banyak. Selain Instabug yang sifatnya menunggu, ada pula borang pop-up yang langsung menjemput pengguna, dengan menanyakan kesan  atas perubahan terbaru. Minat bidang ini? Langgankan email kamu di topik User Research Agile Campus.

Borang pop-up yang muncul tiba-tiba.

Masalah g:

Sisi Proses

Product Manager dari Learn.AgileCampus.org

Sorry, the comment form is closed at this time.